Indonesia Masih Di Persimpangan Jalan

Mengemukanya berita dugaan skandal Bank Century karena rakyat sudah sangat haus atas Pemerintahan yang bersih dan Pemerintahan yang taat hukum. Angin Demokrasi memang baru saja bertiup di negeri ini...

Selengkapnya

Kolom Sekretaris Jenderal

............................. ............................. ............................. ............................. ............................. ............................. ............................. ............................. ............................. .............................

Link P2KB

Muktamar IDI ke–27 di Palembang

"Prioritas Utama IDI Adalah Mempertahankan dan Meningkatkan Profesionalisme Anggota dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Serta Menjadikan Dokter Indonesia Mampu Bersaing dalam Era Globalisasi"

Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali kembali digelar. Muktamar yang ke–27 resmi dibuka oleh Wakil Presiden Bapak Budiono di Istana Wakil Presiden (16/11)di Jakarta. Muktamar IDI berlangsung mulai 18–22 November di Hotel The Aryaduta, Palembang.

Dari hari pertama (18/11) para tamu yang khususnya dokter dari seluruh Indonesia berkumpul di Palembang, walaupun hanya perwakilan setiap IDI cabang atau wilayah. Tercatat kurang lebih 1000 peserta muktamar yang hadir.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar Muktamar ke–27 yang secara resmi dibuka hari Kamis (19/11) di hotel Aryaduta Palembang oleh Gubernur Bapak Alex Noerdin, Kegiatan yang berlangsung hingga 21/11, yang akan dipanaskan dengan pemilihan Presiden elect 2009–2012.

Tema Muktamar IDI ke–27 adalah Penjaminan Pembiayaan Kesehatan Sosial yang Ideal adalah Instrumen Terciptanya Sub–Sistem Referal Sebagai Bagian dari Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dalam Rangka Menuju Sehat Sejahtera Untuk Semua.

Sementara itu Ketua Umum PB IDI DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes dalam temu wartawan pada Rabu (18/11) di Hotel Aryaduta menjelaskan, Muktamar merupakan mekanisme pengambilan keputusan dalam organisasi IDI dan perhimpunan yang bernaung di dalamnya. Muktamar juga merupakan ajang pertemuan bersama untuk menentukan pokok–pokok program kerja IDI dan memilih Presiden elect IDI.

Fachmi menambahkan, dengan berlakunya Undang–undang Praktik Kedokteran No. 29 tahun 2004, serta makin hangatnya masalah globalisasi dalam dunia kedokteran, peran dan tanggung jawab IDI dalam kehidupan profesi maupun pelayanan masyarakat di bidang kesehatan menjadi semakin besar. Prioritas utama IDI adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme anggota dalam memberikan pelayanan kesehatan serta menjadikan dokter Indonesia mampu bersaing dalam era globalisasi.

Fachmi menambahkan, cita–cita kesehatan dalam IDI hanya dapat diciptakan melalui system pelayanan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional yang berbasis Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) bidang kesehatan, dengan prinsip–prinsip asuransi kesehatan sosial.

Fachmi juga mengharapkan ke depan, seluruh masyarakat mempunyai dokter keluarga dan dokter keluarga juga akan sejahtera karena diapresiasi oleh system sesuai dengan standard an harapan profesi kedokteran. Pengembangan system ini akan menjamin praktik kedokteran yang bersifat promotif dan preventif, dapat dijalankan secara lebih efektif dan efisien, sekaligus menata rujukan pasien dari dokter keluarga ke dokter spesialis atau dokter penerima rujukan. Dokter penerima rujukan hanya melayani rujukan dan menerima pasien yang seharusnya sesuai dengan kompetensi keilmuan yang dimiliki.

Rangkaian kegiatan muktamar sendiri dimeriahkan dengan pameran alat kesehatan, obat–obatan dari berbagai Perusahan Farmasi dan kegiatan symposium, diskusi panel, sidangorganisasi/pleno dan sidang komisi.

Pada Hari Sabtu dilakukan pemilihan Presiden elect 2009–2012 yang akan mendampingi ke tua umum. Jabatan Presiden elect cukup strategis karena tiga tahun ke depan presiden ini berpotensi menjadi ketua umum.

Pemberian Penghargaan

Pada Malam Selamat Datang (18/11) yang bertempat di Gedung Griya Agung Palembang adalah undang dari Bapak Gubernur Sumatera Selatan Bapak Alex Noerdin. Peserta Undangan tidak dari para dokter saja tetapi juga dari Ikatan Istri Dokter Indonesia juga hadir. Sehingga kedung yang baru saja diperluas penuh dengan peserta undangan dokter dan istri dokter.

Malam Selamat Datang dimulai dengan sambutan Ketua Umum IDI DR. Dr. Fachmi Idris, Mkes, dan disambung dengan sambutan Gubernur Bapak Alex Noerdin, dan juga dimeriahkan dengan penampilan Bapak Alex Noerdin berduet dengan istrinya menyumbangkan sebuah nyanyian.

Pada acara tersebut di meriahkan juga dengan pemberian penghargaan IDI, yaitu penghargaan Sutomo Tjokronegoro, yang diberikan kepada Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi IDI untuk diberikan kepada tokoh masyarakat yang telah memperlihatkan dan membuktikan perhatian yang besar serta prakarsa dalam pengembangan upaya kesehatan pada umumnya dan kedokteran pada khususnya. Tokoh masyarakat penerima tanda ini adalah mereka yang member perhatian yang besar untuk pengembangan upaya di bidang kedokteram. Memprakarsai suatu upaya besar yang mendorong pengembangan kedokteran dan memperlihatkan jasa dan bantuannya yang besar dalam upaya pengembangan kedokteran.

Kedua, penghargaan Wahidin Sudirohusodo, diberikan kepada Prof. DR. Dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD–KAI. Penghargaan ini diberikan kepada dokter/anggota IDI yang telah menunjukkan prestasi kemasyarakatan yang menonjol dalam pengamalan profesi kedokteran. Penerima tanda penghargaan ini adalah dokter warga Negara Indonesia anggota IDI yang berjiwa Pancasila. Telah membuktikan secara nyata prestasi dalam pengabdian ilmu dan kemampuan profesinya bagi pembangunan kesehatan pada umumnya dan dunia kedokteran khususnya. Telah membuktikan kesetiaannya terhadap sumpah dokter serta etika kedokteran.

Ketiga penghargaan M.Kodiat diberikan kepada Prof. DR. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, SpA (K). Penghargaan ini diberikan kepada dokter anggota IDI yang memperlihatkan dan membuktikan prestasi keilmuan yang menonjol di bidang kedokteran. Penerima tanda penghargaan adalah: Telah membuktikan prestasi ilmiahnya di bidang kedokteran. Prestasi ilmiah tersebut harus orisinil dan merupakan pengembangan baru dari apa yang pernah ditemukan oleh orang lain, atau merupakan hasil penelitian yang belum pernah dilakukan oleh orang lain. Prestasi ilmiah tersebut berhasil membawa nama baik profesi kedokteran pada khususnya atau bangsa Indonesia pada umunya. Prestasi ilmiah tersebut memunkinkan pengembangan ilmu kedokteran di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya, atau memungkinkan pengembangan baru dalam usaha peningkatan taraf kesehatan bangsa Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Prestasi ilmiah tersebut telah diterbitkan di majalah kedokteran, baik di dalam maupun di luar negeri. Yang berhak mendapat tanda penghargaan ini adalah dokter warga Negara Indonesia, anggota IDI yang setia dan berjiwa Pancasila, mengamalkan kodeki dan sumpah dokter dan belum pernah mencemarkan nama baik Ikatan Dokter Indonesia.

Keempat, Penghargaan R. Wasito diberikan kepada DR. Arief Setiawan, SpOG MKes, MM. Penghargaan ini diberikan pada dokter anggota IDI yang telah memperlihatkan dan membuktikan prestasi dan peran aktifnya dalam pengembangan Gerakan Keluarga Berencana Mandiri. Penerima tanda penghargaan ini adalah Dokter warganegara Indonesia, anggota IDI. Aktif dalam program KB. Aktif dalam kegiatan IDI setempat dan tidak pernah melanggar ketentuan organisasi dan etika profesi.

Kelima Penghargaan Soedjono Djoened Poeponegoro diberikan kepada Dr. Rahayu Sp.A.M.Kes. Penghargaan ini diberikan kepada dokter anggota IDi yang telah memperlihatkan dan membuktikan prestasi yang tinggi dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran, baik di majalah/jurnal nasional maupun internasional. Penerima tanda penghargaan ini adalah: dokter warganegara Indonesia, anggota IDI, menulis tulisan ilmiah di majalah/jurnal nasional maupun internasional. Tulisan ilimiah dimaksud adalah naskah ilmiah asli dan tinjauan kasus serta suatu review.

Keenam, penghargaan Abdulrachman Saleh diberikan kepada dokter anggota IDI yang membuktikan peran aktif dan pengabdiannya dalam membantu masyarakat did aerah yang dilanda bencana atau konflik sosial.

Ketujuh penghargaan Adi Satya Utama IDI diberikan kepada anggota IDI sekurang–kurangnya selama 3 periode dengan setia mengabdikan diri bagi perkembangan organisasi di lingkungan IDI.

Kedelapan, penghargaan Adi Yasa Utama IDI diberikan kepada dokter dan/anggota masyarakat yang berjasa bagi perkembangan organisasi IDI.

Kesembilan penghargaan Khusus diberikan kepada Dr Sulastomo, MPH dan Dra. Dien Kuswardani. Penghargaan ini diberikan kepada dokter anggota IDI dan atau karyawan IDI yang memperlihatkan prestasi tertentu tetapi belum terakomodasikan di dalam jenis–jenis penghargaan yang ada selama ini. Nama penghargaan khusus ini akan ditentukan oleh panitia pemberian penghargaan IDI sesuai keperluannya.