Categories
Berita news-nasional

DOKTER BUTUH UMP; BUKAN UMR

DOKTER BUTUH UMP; BUKAN UMR

Iqbal Mochtar

            Anda kira semua dokter banyak duit? Itu mungkin benar dinegara-negara maju, tetapi tidak di negeri ini. Di Amerika, dokter menjadi nomor urut pertama Top-10 Best Paying Job; jauh diatas chief executive dan pilot. Sebuah survey menyebut rerata pendapatan mereka pertahun US$ 352,000 atau sekitar 400an juta perbulan. Dokter umum pendapatannya US$ 219,000 pertahun atau Rp 270 an juta perbulan. Tidak ada gap terlalu besar antara gaji dokter spesialis dan umum. Intinya, pendapatan dokter amat cukup. Di Malaysia, dokter adalah profesi nomor dua berpenghasilan tertinggi setelah chief executive. Rerata pendapatan mereka perbulan sekitar RM 10.000-30.000 atau sekitar Rp 40-80 jutaan perbulan. Dokter umum mendapatkan RM 10.000-15.000 atau sekitar Rp 40-60 juta perbulan. Tidak ada gap menganga antara pendapatan dokter spesialis dan dokter umum.

Bagaimana dinegeri wakanda, eh…maksudnya +62? Jujur, tidak banyak survei valid tentang pendapatan dokter dinegeri ini. Mungkin dianggap tidak penting tahu berapa penghasilan dokter. Anggota IDI pernah melakukan survei beberapa tahun lalu. Hasilnya mencengangkan. Berdasar ratusan responden dokter umum, survei membuka bahwa lebih 25% dokter tidak memperoleh penghasilan diatas Rp 3 juta rupiah dan lebih 90% dokter tidak memperoleh penghasilan diatas Rp 12,5 juta. Ini bukan hanya ironis tetapi sangat miris. Bagaimana anda mau hidup layak dengan penghasilan Rp 3 juta? Come on…be realistic. Bagaimana mungkin dinegeri yang, kata pemerintah, kekurangan dokter justru penghasilan dokternya anjlok ke titik sangat rendah? Bila hasil survei IDI valid dan digeneralisir, wajar bila banyak fenomena miris tentang dokter muncul. Jadi paham kini; pantasan cukup banyak dokter yang ke tempat praktek naik kendaraan umum atau motor; pantasan banyak dokter yang tidak punya rumah dan terus bersemayam dirumah mertua atau rumah kontrakan; pantasan dokter banyak nyicil dan minjam duit di bank; dan pantasan cukup banyak dokter ngambil pekerjaan sambilan termasuk jadi makelar.

Kok bisa? Bukannnya dokter adalah highly appreciated and qualified profesional? Betul, itu secara teoritis. Sayangnya teori itu tidak jalan dinegeri ini; profesi ini kurang dihargai dinegeri ini. Belum ada upaya sistematis pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan dokter. Profesi dokter dipilah dan dibelah menjadi profesi worker atau pekerja; akhirnya, bayaran dokterpun menjadi bayaran worker dan bukan bayaran profesional. Dokter yang menjadi pegawai Pemda dibayar gaji standar Pemda. Yang menjadi dosen atau peneliti dibayar gaji standar dosen dan peneliti. Yang masuk tentara bayarannya standar pembayaran staf tentara. Yang ikut swastapun harus ikut pula salary scale swasta dan amat tergantung pada iklim ekonomi perusahaan. Beberapa perusahaan swasta bahkan menggunakan salary scale berdasar Upah Minimum Regional (UMR) untuk dokter. Makanya jangan heran kalau banyak iklan lowongan dokter di surat kabar yang membrandol gaji dokter penuh waktu sekitar Rp 3-5 juta perbulan. Kata perusahaan, “ itu kan sesuai UMR…”. Intinya, dokter direward bukan sebagai profesional tetapi sebagai worker atau pekerja. Disamakan dengan staf lain yang mungkin tidak memiliki kredensial profesional. Ini tentu mencengangkan. Bagaimana bisa sebuah pekerjaan yang memiliki expertise khusus kemudian dibenchmark sama dengan pekerja yang tidak punya spesialisasi khusus? Sampai disini, kita waras?

Asal tahu saja, sekolah kedokteran itu tidak mudah. Bukan ecek-ecek. Bukan kaleng-kaleng. Dulu, rata-rata dokter lulus menjadi dokter umum setelah sekolah lebih 7 tahun. Ada yang sampai 10 tahun malah. Sekarang rata-rata 6 tahun. Ini belum termasuk bermacam ujian dan internship pasca selesai. Biaya sekolah kedokteranpun enggak tanggung-tanggung. Untuk masuk menjadi mahasiswa kedokteran saja ada universitas yang mematok ratusan juta rupiah dan bahkan miliar. Perjalanan sekolahnya rumit dan ribet. Setelah menjadi dokter mereka harus terus mempertahankan kapasitas keilmuan dan ketrampilannya dengan mengikuti berbagai training dan pendidikan. Ini sebuah long-life education process. Begitu kecemplung di masyarakat, eh…salary yang ditawarkan kepada mereka menggunakan salary scale UMR. Weleh…Dengan standar begini, maka jangan heran kalau ada dokter yang pendapatannya dibawah pendapatan pengamen jalanan. Seorang pembersih mobil jalanan di Makassar bisa memperoleh lebih Rp 100.000 perhari. 11-12 dengan tawaran gaji dokter oleh beberapa perusahaan swasta. Sangat miris.

Memberi gaji minim dan rendah kepada dokter mengisyaratkan rendahnya appresiasi terhadap profesi dokter. Bahkan ini sebuah pelecehan intelektual dan profesional. Mungkin dimata masyarakat, profesi ini masih tetap dihormati dan disegani tetapi tampaknya tidak demikian dimata pembuat kebijakan. Apakah pernah ada upaya pembuat kebijakan untuk mengatur upah minimal untuk profesi ini? Setidaknya membuat garis demarkasi antara upah minimum regional (UMR) yang berlaku bagi pekerja umum dengan upah minimum profesi (UMP) yang berlaku bagi pekerja yang memiliki profesi dokter? Dokter itu memerlukan standar UMP dan bukan UMR; karena UMR tidak relevan dengan level keprofesionalan mereka. Apakah pembuat kebijakan pernah memikirkan perlunya tunjangan profesi kepada para profesional disamping gaji rutin mereka? Apakah pembuat kebijakan pernah melakukan penelitian tentang pendapatan dokter dan kemudian melakukan upaya sistematis meningkatkan kesejahteraan mereka? Tell me if this has been checklisted.

Ada teman bilang, profesi dokter ini profesi ekploitasi. Artinya, saat mereka sekolah, prinsip bisnis diberlakukan bagi mereka. Bayar sekolah mahal dan tidak ada bantuan. Semua dari kantong sendiri; bila perlu dengan jual sawah dan ladang. Begitu mereka selesai, mereka diminta menjadi profesi altruisme dan harus dengan segenap jiwa raga siap berbakti untuk negeri dan ditempatkan dimana saja. Mungkin statemen teman ini benar. Ada juga bilang, profesi dokter disamakan pemadam kebakaran. Hanya diappresiasi ketika kebakaran menyambar-nyambar namun ketika api padam profesi ini dilupakan. Sayonara dokter. Statemen teman ini juga benar. Jadi terbayang saat puncak-puncak pandemi dulu dimana semua orang berteriak membutuhkan dokter. Katanya, ‘dokter…you are my real hero’. Lebay banget. Pas pandemi mereda, organisasi profesi dokter mulai dibiarkan bentrok. Ingin dibuat peraturan yang membatasi dan meredam teritori dokter. Kasian deh. Dalam kondisi begini, orang Arab biasa bilang ‘what to do yakni’. Kita jawab saja, ‘welcome to negeri Wakanda’…eh…maksudnya… ‘welcome to the country’s code +62’.

 

  • Iqbal Mochtar, Pengurus PB IDI.