Categories
Berita news-nasional

IDI : STRONG TO STRONGER

Dr. Iqbal Mochtar, Sp.Ok,MPH, MOHS, Dip;. Card, DoccMed, FRSPH, Ph.D

Departemen Dokter Luar Negeri PB IDI

Kemarin Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar rapat kerja. Partisipannnya majemuk; mulai dari pengurus IDI, dewan pakar, dewan pertimbangan hingga sesepuh IDI. Pengurus milenial IDI juga terlibat. Jadilah raker ini menjadi akulturasi sinergis lintas generasi. Irisan generasi. Tua dan muda menyatu. Lebur dalam kebersamaan. Kolaboratif dan inklusif.

Tiga fenomena penting terekam dari raker kemarin.

Satu, IDI terkesan makin solid. Dalam raker kemarin IDI mempertegas eksistensinya sebagai wadah pemersatu dokter di Indonesia. Akulturasi generasi kemarin tidak menyisakan sedikitpun gap. Generasi awal dan generasi muda IDI duduk bersama, mendiskusikan dan memformulasi program-program mereka 3 tahun kedepan. Tidak ada sekat antara mereka. Tidak ada merasa lebih apa. Tua-muda, pusat-daerah, klinisian dan non-klinisian, senior dan non-senior, semua lebur dalam kebersamaan. Asyik melihat suasana itu. Cair dan lembut. Saat istirahatpun mereka lebur dalam kebersamaan. Mereka makan, shalat dan bercanda lepas bersama. Bahkan saat istirahatpun cool. Mereka lebur dalam lagu Didi Kempot Cendol Dawet yang dilantunkan bersama. Keren dan cool. Pakem kemarin memberi pesan : bermodal soliditas demikian, IDI akan siap dan mampu menghadapi persoalan yang menghadapinya.

Kedua, IDI bertekad menjadi lebih baik. From a strong institution to a stronger instution. Ini pesan jelas yang diecho-kan kemarin. Prinsip IDI reborn terus bergema dan disemburkan kemarin; lengkap dengan penjelasan rasional dibalik komitmen itu. IDI berkomitmen kuat menjadi organisasi lebih baik, profesional dan modern. Dan ini akan dijawantahkan dengan berbagai program strategis dan komprehensif yang dirumuskan kemarin. Komitmen untuk selalu memperbaiki diri memang menjadi ciri organisasi modern dan profesional. Harus selalu melihat room for improvement dan mengisinya. Melihat room for improvement memang solusi agar sebuah institusi tetap eksis. Charles Darwin pernah bilang : makhluk yang survive bukankah yang terkuat dan terpintar tetapi yang paling mampu melakukan adaptasi. Ini yang menjadi basis teori Darwin tentang survival. IDI kini memilih lebih membuka diri dan memperbaiki diri. Artinya, ia mempersiapkan diri menjadi durable institution. Undefinite institution. Sebuah institusi yang akan survive.

Ketiga, tantangan yang dihadapi IDI super-kompleks. Mereka berhadapan dengan issu masa lalu, masa kini dan masa depan. Lengkap paketnya; seperti three in one package : past, present and future. Mereka harus menggali dan mempertahankan nilai-nilai luhur kedokteran yang telah dibangun para pendahulunya. Mereka harus berjibaku dengan persoalan kekinian, termasuk peningkatan profesi dan kesejahteraan dokter, pemerataan distribusi dokter, simetritas peran dengan stakeholder, internasionaliasi dan universalisme, penegakan etika profesi dan sebagainya. Mereka juga berhadapan dengan future potential events : pengembangan artificial inteligent, precision medicine, potensi biological weapon dan sebagainya. Ini tantangan multi-kompleks yang butuh sinergisme, kolaborasi dan inklusifme. Butuh kerja keras dan bukan NATO (no action and talk only). Dalam bahasa militer ini lebih indah disetarakan sebagai silent operation. Senyap tapi makjleb. Makanya ada nice quote dari kolega Safrizal dari Aceh kemarin : IDI akan berkarya bukan bergaya, berperan dan bukan baperan, maju dan bukan malu, fokus dan bukan lokus serta aktif tapi tidak reaktif. Seriously, ini quote yang cool and presisi.

Raker kemarin membuka mata betapa kompleks issu yang dihadapi IDI. Ini tantangan sangat besar. Tantangan kompleks demikian sifatnya bukan hanya on the spot tetapi ongoing. Tantangan ini akan menggelayut bukan hanya pada periode Dr Adib 3 tahun kedepan tetapi juga hingga 5-10 tahun kedepan. Tidak mudah menuntaskannya dalam periode 3 tahun saja. Perlu program lanjutan pasca periode ini. Perlu dibuat Key Performance Indicator (KPI) per-periode. Agar makin terukur capaian dan presisinya. Terlepas dari itu, raker kemarin juga mengisyaratkan pesan senyap : IDI seriously solid dan makin solid, cool and makin coller. Gesture kekompakan dan kebersamaan yang ditampilkan amazing. Ini modal utama; soliditas adalah modal utama organisasi. Ramuan rencana program yang strategis dan rasional plus kekompakan dan soliditas elegan anggota menjadi portofolio IDI memulai action-nya. Aksi membawa dokter dan penduduk negeri menjadi makin sehat dan sejahtera. Ini tugas berat dan mulia yang mesti segera dimulai. Dan IDI perlu mendengar, mengajak dan melibatkan semua anggota dan gerbong-gerbong unitnya untuk mencapai tujuan ini. Jangan eksklusif. Implementasi segera, efektif dan presisi program akan makin menoreh image dan gesture positif IDI sebagai organisasi yang benar-benar bergerak dari state of strong menjadi a state of stronger. Seperti kata Theodore Rosevelt ‘Get action now’. Aksi ini perlu dimulai sekarang.