Categories
Berita news-nasional

Satgas COVID-19 Tanggapi Kemunculan Deltacron, Varian Gabungan Delta-Omicron

Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bukti kuat terkait virus gabungan dari varian Delta dan Omicron atau disebut dengan Deltacron. Varian ini juga dilaporkan di beberapa negara, seperti Prancis, Denmark, dan Belanda.
Kemunculan varian itu juga ditanggapi oleh juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. Ia menjelaskan nama dari varian yang dikenal tipe GKA AY.4 BA.1 ini belum resmi ditetapkan oleh WHO.

“Varian GKA atau AY.4 BA.1 merupakan varian yang terindikasi memiliki percampuran genetik antara varian Delta dengan istilah AY.4 dan Omicron atau dengan istilah ilmiahnya 21K atau BA.1,” beber Prof Wiku dalam konferensi pers, Selasa (15/3/2022).

“Namun, penamaan resmi varian ini belum ditetapkan oleh WHO,” lanjutnya.

Prof Wiku juga menegaskan sampai saat ini data terkait karakteristik dari Deltacron ini masih terbatas.

“Dan WHO dalam media briefing pada 10 Maret 2022 menyebutkan bahwa dalam hasil pertemuan Technical Advisory Group on Virus Converse Evolution atau grup penasehat teknis terkait evolusi virus yang terdiri dari para pakar virus di dunia, dampak varian ini terhadap indikator epidemiologi maupun tingkat keparahan gejala belum dapat dipastikan dan masih terus diteliti,” jelas Prof Wiku.

“Jadi penting untuk dipahami bahwa semua virus masih beredar apalagi dalah tingkat penularan yang tinggi, potensi terjadinya mutasi virus akan semakin besar,” imbuhnya.

Bukan Rekombinasi Pertama

Dalam penjelasannya, Prof Wiku mengatakan perubahan virus ini bisa terjadi melalui berbagai mekanisme. Salah satunya rekombinasi, seperti yang terjadi pada varian tersebut.

“Rekombinasi virus bukan merupakan hal yang baru dan sudah banyak terjadi pada berbagai virus lainnya,” kata Prof Wiku.

Maka dari itu, Prof Wiku menegaskan untuk tidak memberi ruang bagi berbagai jenis virus untuk masuk dan menular ke dalam negeri. Salah satunya melindungi diri dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Di masa adaptasi ini pencegahan penularan ini lebih banyak porsinya pada tanggung jawab setiap individu. Setiap orang wajib melindungi dirinya sendiri dan orang lain melalui disiplin protokol kesehatan 3M,” pungkasnya.

Sumber : detikhealth.com