Siaran Pers Ikatan Dokter Indonesia pada Acara Peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia
Pada peringatan "Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kiprah Dokter Indonesia" tahun lalu di Istana Negara bersama Presiden RI, komunitas kedokteran telah menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia. Kebangkitan Nasional melekat erat kiprah dokter Indonesia mengingat pada tanggal 20 Mei 1908 para dokter muda dan mahasiswa kedokteran Stovia yang dimotori Dr. Sutomo mendirikan Budi Utomo dan sejarah mencatat peristiwa itu sebagai awal kebangkitan nasional.
PB IDI memanfaatkan momentum tersebut sebagai upaya merevitalisasi peran dokter Indonesia agar kembali berperan, tidak hanya sebagai agent of treatment, namun juga sebagai agent of social change dan agent of development. Karena pada hakekatnya, ketiga peran atau "Trias Peran" yang telah menempatkan peran strategis dokter Indonesia dalam konteks kebangsaan.
Untuk memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia tanggal 20 Mei 2009 Ikatan Dokter Indonesia melaksanakan serangkaian kegiatan berikut :
- IndoMedica Expo 2009
- Seminar Urun Rambug Nasional
- Operasi bibir sumbing melalui Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik sejak bulan Juni 2008 hingga Juli 2009. Kegiatan ini berlangsung antara lain di Purwokerto, Cianjur, Kendari, Sibolga, Palu, Bandung, Surabaya, Cirebon serta Pontianak. Selama kegiatan yang telah berlangsung. Perapi melaksanakan operasi sumbing gratis kepada 511 orang.
- Operasi katarak melalui Perhimpunan Dokter Spesialis Mata sejak Februari hingga Mei 2009. Kegiatan ini berlangsung di Yogyakarta, Sidoarjo, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Pelabuhan Ratu, Tasikmalaya, Majalengka, Purbalingga, Kayung Utara Kalimantan Barat, Ende, Kupang, Malang, Surakarta, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat dan Sulawesi Utara. Selama kegiatan tersebut, PERDAMI melaksanakan operasi katarak gratis kepada 1282 orang.
- Dokter Kecil Award, merupakan program pengenalan sejak dini kepada anak-anak agar mengenal jatidiri dokter Indonesia yang sesungguhnya. Tujuan program ini agar dokter-dokter kecil dapat menjadi contoh berperilaku hidup sehat dan peduli lingkungan. Rangkaian program ini berlangsung dari Februari sampai Mei 2009 diakhiri dengan grand final yang diikuti oleh peserta dari 30 propinsi berhasil memilih finalis Dokter Kecil Award dengan pemenang : 1. Hedianti Deliana dari Jawa Timur, 2. Agnia Dewi Larasati dari Jakarta Timur, 3 Syafitri Rinjani dari Riau. Penyerahan award dilakukan oleh Ibu Negara RI pada tanggal 8 Mei 2009.
- Kampanye cegah kanker Cervik (KC3) yang dihadiri oleh kurang lebih 500 perempuan dan telah diresmikan oleh Ibu Negara RI dalam acara yang bersamaan dengan penyerahan Dokter Kecil Award di Jakarta.
- Bakti Sosial yang dilaksanakan sepanjang bulan Maret – Mei 2009 oleh kurang lebih 33 IDI Wilayah dan 343 IDI Cabang se Indonesia.
- Kegiatan spesifik HBDI berupa membebaskan atau mengumpulkan jasa konsultasi mediknya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang tidak mampu. Aktivitas ini dilatarbelakangi oleh situasi actual masyarakat saat ini yang membutuhkan solidaritas, empati dan rasa kesetiakawanan dari setiap elemen bangsa. Saat ini, jumlah dokter Indonesia tercatat sebanyak kurang lebih 80.000 (delapan puluh ribu)orang. Jika sosialisasi kegiatan ini dapat menjangkau dan dilaksanakan oleh sedikitnya lima puluh persen dari total dokter Indonesia, dan setiap orang rata-rata membebaskan sepuluh pasien (biaya konsultasi medic dirata-ratakan @ pasien adalah Rp 50.000), maka potensi dokter dan masyarakat yang menyumbang pada hari tersebut untuk kepentingan kesehatan bangsa kurang lebih Rp 20 Miliar.
Semua rangkaian kegiatan di atas terbingkai dalam kerangka pikir Gerakan Dokter Untuk Bangsa, yaitu gerakan yang menghimpun dan mengerahkan segenap potensi dokter dan potensi masyarakat untuk menyehatkan bangsa. Gerakan ini sudah dideklarasikan pada saat HUT IDI ke 59, 24 Oktober 2007 di tempat lahirnya Budi Utomo di eks-Gedung Stovia.
Program nyata, terkait dengan gerakan menghimpuan potensi dokter untuk menyehatkan bangsa difokuskan pada upaya, mengingatkan kembali dokter-dokter Indonesia bahwa sehatnya sebuah bangsa bukan hanya sekadar sehat fisik namun juga harus meliputi sehat mental dan sosial. Fokus ini sesuai dengan definisi sehat dari WHO.
Gerakan dokter untuk bangsa dalam kaitannya dengan upaya merevitalisasi peran dokter membutuhkan upaya jangka panjang dan hanya akan terjadi di dalam system yang memungkinkan untuk itu. Para professional di dalam lingkungan IDI berupaya secara terus menerus untuk menguulkan system yang sesuai untuk itu.
Sistem itu adalam system pelayanan kesehatan dan kedokteran terpadu, yang berbasis system pembiayaan asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib bagi seluruh warga Negara. Yang mampu diwajibkan membayar sendiri dan yang tidak mampu premi asuransinya disubsidi oleh Negara. Melalui keterpaduan dengan system pelayanan kedokteran berbasis pendekatan keluarga yang ditunjang system peningkatan kompetensi dokter, kami yakin profesi kedokteran saat ini dan mendatang akan mampu memberikan kontribusi lebih besar dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih sehat, bangsa yang lebih kuat dan bangsa yang lebih terhormat.


